Oleh : Fauzan Hakim, S.Ag
Pada kenyataannya, jalan hidup manusia tidak akan selalu mulus. Selama hidup di dunia, kita tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya ujian dan cobaan.
Kesulitan ekonomi, sakit parah, putus hubungan, hingga berpisah dengan orang yang kita cintai, dan berbagai cobaan yang seringkali membuat kita mengeluh, hampir-hampir putus asa.
Bahkan ujian dan cobaan itu selalu menimpa orang-orang beriman, silih berganti. Berbanding terbalik dengan kehidupan para pendosa atau orang kafir yang bergelimangan harta serta kaya raya dengan segala kemewahannya. Tanpa kendala, kehidupan mereka lancar-lancar saja. Padahal mereka suka melakukan perbuatan keji tanpa batas, seperti melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa, tanpa merasa berdosa.
Sampai ada yang bertanya, mengapa Tuhan tidak langsung menimpahkan azab kepada para pembangkang atau orang kafir, lalu membebaskan umat muslim dari derita dan memenangkannya. Dimanakah letak keadilan Tuhan? Apakah ini bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar melebihi pemahaman kita? Atau apakah ini merupakan ujian bagi umat manusia atau bahkan kegagalan dari kebijaksanaan Ilahi?
Contoh paling krusial, yaitu Perang yang tak berkesudahan di Gaza telah menciptakan luka mendalam bagi saudara kita di Palestina dan umat muslim bahkan sebagian umat manusia diseluruh dunia. Ribuan nyawa melayang, anak-anak yang kehilangan masa depan hingga orang tua yang kehilangan harta benda dan anak-anak mereka.
Bagaimana mungkin kekuatan yang dianggap Mahakuasa dan Maha adil membiarkan tragedi ini terus berlanjut? Apakah perang dan penderitaan ini benar-benar sesuai dengan kehendak Ilahi? Dalam hal ini, kita perlu merenung tentang konsep hukum ilahi dan apakah kita memiliki pemahaman yang memadai untuk menggugatnya?
Tulisan ini mencoba menjelaskan Hikmah dibalik ujian dan rencana Tuhan dalam kehidupan umat manusia. Tanpa melupakan pendapat filsuf dan ahli, penulis juga akan mengemukakan pandangan sejumlah agama didunia khususnya Islam, melihat keadilan Tuhan serta hikmah dibalik ujian tersebut.
Berikutnya, akan diungkapkan juga bagaimana pula orang Kafir dan para pendosa bisa kaya raya dengan dan bersenang-senang dengan kemewahannya. Disisi lain kehidupan sebagian umat muslim, terseok-seok tak luput dari ujian dan sejumlah persoalan kehidupan yang membuat kita miris, karena tak tahan melihat derita kaum muslim di sejumlah negara muslim dunia akibat perang atau sebab lain.
Melalui tulisan penulis juga mengungkapkan sebuah kisah seorang pemuda yang menanyakan Musa, as., tentang keadilan Tuhan. Harapan saya cerita singkat ini dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang hikmah dibalik ujian Tuhan, sehingga lebih rasional, Arif, bijak dengan terus meningkatkan keimanan serta kesabaran dan prasangka baik atas Qodha dan Qadar-Nya. Berikut pembahasannya.
1. Hidup Memang Berdampingan Dengan Ujian Dan Cobaan!
Hidup sering kali diibaratkan sebagai sebuah perjalanan, di mana setiap individu menghadapi beragam tantangan dan ujian. Dari sudut pandang filosofis dan agamis banyak pemikir besar dan tradisi agama menekankan pentingnya ujian dalam kehidupan manusia. Sejumlah pemikir dan semua agama mengajarkan bagaimana ujian dan cobaan membentuk kita menjadi individu yang lebih baik.
Socrates, filsuf besar Yunani Kuno, pernah berkata,"An Unexamined life is not worth living, yang artinya kehidupan yang tidak teruji tidak layak untuk dijalani."Ini adalah seruan untuk introspeksi, mendorong kita untuk memikirkan kembali tindakan, keyakinan, dan nilai-nilai yang kita anut.
Dalam pandangan Sockrates, ujian hidup bukan hanya sekadar tantangan, tetapi juga peluang untuk mengevaluasi diri. Ketika kita menghadapi kesulitan, kita diajak untuk bertanya: "Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap kejadian seperti ujian dan cobaan?"Sehingga kita bisa menemukan arti dari setiap peristiwa dalam kehidupan umat manusia.
Seneca dan Marcus Aurelius filsuf stoik, melihat ujian sebagai kesempatan untuk memperkuat karakter dan kebijaksanaan. Dalam ajaran kristen-pun ada ungkapan "Ujilah aku,"
menggambarkan kerinduan untuk diuji dan dimurnikan. Konsep ini menunjukkan bahwa ujian dapat menjadi sarana untuk menguji iman dan kepercayaan seseorang. Di tengah cobaan, banyak orang Kristen menemukan kekuatan dalam iman mereka, yang membantu mereka melewati masa-masa sulit dan tumbuh lebih dekat kepada Tuhan.
Terlebih Islam, dalam ajaran Islam, ujian sebagai Takdir Ilahi. Surah Al-Baqarah ayat : 155-156, menekankan bahwa ujian ini bukanlah sekedar kesulitan, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan kesabaran dan ketabahan seseorang. Dalam konteks ini, ujian menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat iman. "Islam melihat kesulitan sebagai bagian dari rencana Ilahi yang lebih besar, yang mengajak orang beriman untuk berserah diri dan percaya bahwa ada hikmah di balik setiap ujian."
"Dan harus diingat bahwa di dalam kesulitan pasti ada kemudahan"(QS Al-Insyirah :5-6).
Ayat ini menjadi penghibur dan motivasi bagi umat Muslim yang tengah menghadapi ujian hidup agar
bersabar dan terus berusaha dengan penuh keyakinan kepada Allah.
Demikian ajaran Hindu, ujian hidup sering kali terkait dengan konsep karma dan dharma. Karma menjelaskan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ujian hidup sering kali datang sebagai hasil dari karma manusia dan bagaimana manusia merespons ujian tersebut, yang mencerminkan pengamalan dharma guna memahami diri mereka sendiri dan mencapai moksha, atau pembebasan spiritual.
2. Mengapa orang beriman selalu dibuat menderita sedangkan orang kafir selalu Allah beri nikmat yang banyak ?
Bagaimana dengan para pendosa dan orang kafir yang diberi kenikmatan?
Para pendosa dan orang-orang kafir yang kaya raya, diberikan nikmat kesenangan dan kemewahan itu pada hakikatnya merupakan azab dan siksa. Atau yang sering dikenal dengan istilah istidraj.
Istidraj merupakan peringatan keras dari Allah. Malik Al-Mughis dalam bukunya yang berjudul "Demi Masa" menjelaskan, istidraj adalah pemberian kesenangan sebagai ujian bagi orang-orang yang dimurkai Allah agar mereka terus- menerus lalai, bisa berupa harta, jabatan, atau hal-hal lain yang disukai. Namun, kenikmatan tersebut tidak memberi keberkahan dan justru menjauhkan mereka dari Allah SWT.
Beberapa contoh istidraj adalah
"Harta melimpah tetapi tidak pernah bersedekah, Rezeki berlipat-lipat tetapi tidak pernah shalat, dikagumi, dihormati, tetapi akhlaknya bejat, Jarang sakit padahal dosanya banyak, hidupnya bahagia tetapi banyak orang terluka karenanya. Karirnya menanjak tetapi banyak orang yang terinjak,"begitu seterusnya. Lalu, muncul lagi pertanyaan serupa, Dimanakah Letak Keadilan Tuhan?
Sebagai pencerahan, ada baiknya kita mengingat sekelumit sejarah masa lalu yang mengungkapkan bagaimana Nabi Musa menjelaskan kepada seorang pemuda yang mempersoalkan tentang keadilan Tuhan, berikut kisahnya.
Syahdan,"Dimasa Nabi Musa ada seorang pemuda menanyakan tentang peristiwa pembunuhan tragis oleh seorang pemuda yang dengan tega membunuh seorang kakek tua karena dituduh mencuri sebuah bungkusan berisi emas dan perak. Setelah diketahui ternyata yang mengambil bungkusan itu adalah seorang bocah gembala yang tanpa sengaja menemukan bungkusan itu hingga dalam rentang waktu puluhan tahun bocah itu menjadi pemuda yang kaya raya.
Dengan peristiwa itu sipenanya beranggapan bahwa Tuhan tidak adil. Ia beralasan karena dari harta temuannya itu, orang yang menemukan bungkusan emas dan perak tersebut hidup enak dan menjadi kaya raya, sementara kakek tua tadi mati terbunuh sebegitu sadisnya.
Sebagai seorang Nabi, Musa langsung menengadah. Lalu beliau menceritakan sebuah peristiwa di masa lalu, isi cerita itu mengungkapkan, ada dua orang perampok, sebut saja falan dan Fulan. Keduanya berhasil memboyong harta yang melimpah dari seorang hartawan yang kaya-raya. Saat pembagian, Falan mengkhianati janji dengan membunuh Fulan karena ingin menguasai harta itu sepenuhnya.
Lalu, Musa berkata,"tahukah kalian, seorang bocah gembala yang menemukan bungkusan emas dan perak itu adalah putera orang kaya yang telah dirampok oleh Falan dan Fulan.
Sedangkan pemuda yang membunuh kakek tua adalah putera dari Fulan yang dulu terbunuh oleh Falan. Lantas kakek tua yang dibunuh itu tak lain adalah Falan sendiri, yang dulu mengingkari perjanjian lalu membunuh sahabatnya Fulan. Dalam rentang puluhan tahun, terbukalah tabir itu bahwa nyawa telah dibayar dengan nyawa, dan harta pun telah kembali kepada sang pemiliknya."
Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah pertama, pemikiran atau nalar manusia tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat atau wahyu Tuhan."Ibarat sebuah karya manusia, sehebat apapun nilai estetika dalam karya sastra, ia tetap berfungsi sebagai pesan moral atau pesan dakwah yang akan menuntun kita pada kebaikan ataupun keburukan. Keduanya, kebaikan maupun keburukan dalam karya tersebut tetap akan kembali kepada penulisnya."
Artinya semua permasalahan hidup manusia, suka duka, baik ataupun buruk, bahagia ataupun derita, ujian ataupun nikmat, itu semua tidak lepas dari kendali Allah. Manusia punya rencana, Allah-pun juga punya rencana dan rencana Allah-lah yang terbaik dan pasti terjadi, sedangkan rencana manusia belum tentu baik dan manusia tidak akan mampu mengubah rencana Allah kecuali atas izin Dia jualah.
Kedua, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan ini, semuanya sudah terukur dan tertakar dengan baik. Semua makhluk dan ciptaan Tuhan saling terhubung, terkait dan harmoni antara satu dengan yang lainnya. Bahkan tak sehelai daun pun yang jatuh secara kebetulan di kegelapan malam, baik yang kering maupun yang basah. Semuanya mutlak dalam kendali dan pengaturan Sang Kholiq. Bahkan andai pun ada gunung meletus, bumi terbelah seketika, atau orang-orang mati terbangun lantas berbicara, semuanya tetap dalam koridor manajemen dan genggaman Sang Maha Pencipta.
Mengakhiri tulisan ini, Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak ada kekuatan iman yang jatuh gratis dari langit. Keimanan akan senantiasa diguncang oleh hempasan badai dan prahara kehidupan. Pikiran, Penglihatan, pendengaran dan hati senantiasa diuji oleh berbagai kabar dan kisah-kisah tragis seperti yang dialami para Nabi dan orang-orang sholeh terdahulu, yang seharusnya dengan kisah ini dapat menjadi renungan dan pelajaran guna memperteguh keimanan, bukan malah melemahkan dan menghancurkan keimanan kita.
Jadi, Hidup ini pilihan, dan kita sendirilah yang memilihnya, apakah tetap bersyukur, ataukah berbalik arah dengan mengingkari-Nya. Apakah kita akan konsisten pada keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan Maha Menepati janji, ataukah kita mempercayai bahwa realitas kehidupan ini hanyalah siklus benang kusut dari peristiwa-peristiwa chaos dan absurd belaka.
"Bagi kita yang sabar dalam menghadapi ujian atau cobaan Tuhan, bergembiralah karena hidup yang tak disertai ujian tak layak untuk dijalani!"
Sementara bagi para pendosa atau orang kafir yang diberi nikmat itu adalah sebagai hukuman yang memang seperti nikmat namun hakikatnya adalah siksa bahkan bisa merupakan azab atas perbuatan dosa dan kekafiran mereka.
Pertanyaan filosofis dan realistis sebagai penutup,"akan jadi apakah kita dan anak-cucu kita di masa depan nanti?Jawabannya sederhana, bahwa kita semua akan menjadi apa yang kita pikirkan dan apa yang kita perbuat, bahkan nasib hidup kita pun akan tergantung dari apa-apa yang kita perbuat dan apa yang kita pikirkan.
Namun Tuhan bekerja dan senantiasa memberikan harapan kepada manusia sesuai dengan prasangka manusia terhadap-Nya. “Aku bekerja sesuai dengan pikiran dan persepsi hamba-hambaKu terhadap Aku."(Hadits Qudsi).
Oleh karena itu jangan pernah berputus asa dalam setiap ujian dan cobaan yang menimpa kita, sekalipun posisi kita sedang berada di tengah gelombang tsunami yang sangat mencekam, usaha bangkrut, semua rencana gagal, keinginan harapan belum tercapai, hinaan dan cacian, sampai berpisah dengan orang-orang yang kita cintai sekalipun, maka tetaplah berprasangka baik atas ketetapan (Takdir)-Nya.
Sebab, sebesar apapun cobaan dan sesulit apapun permasalahan kita, sudah pasti dibalik itu semua ada rencana Tuhan yang lebih besar. Percayalah, Allah tak pernah mengecewakan hamba-Nya, dan Dia hanya menginginkan kita hanya berserah diri, lalu datang memenuhi panggilan-Nya, menyebut dan mengingat-Nya disetiap tarikan dan hembusan nafas kita. Lalu percaya bahwa ada hikmah di balik setiap ujian atau cobaan itu. Dan bila tiba saatnya, Dia pasti memenuhi janji dan menunjukkan keadilan-Nya.
Wallahua'lam Bissawwab!
Penulis adalah Lulusan tahun 1999 Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.
Tags:
opini